Chimamanda Ngozi Adichie, penulis asal Nigeria Link Spaceman yang dikenal luas lewat karya-karya monumental seperti Half of a Yellow Sun dan Americanah, tidak hanya berbicara tentang kehidupan sosial dan politik melalui tulisan-tulisannya, tetapi juga berani membuka pengalaman pribadi yang menginspirasi. Salah satu pengalaman pribadi yang pernah ia bagi adalah tentang tantangan besar yang ia hadapi sebagai seorang penulis yang sedang hamil.
Adichie, yang sering menggambarkan dirinya sebagai feminis yang tangguh dan pemberani, tidak lepas dari kesulitan-kesulitan yang dialami oleh banyak perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ia juga tidak ragu untuk berbagi kesulitan yang lebih spesifik dalam dunia kepenulisan, terutama saat ia hamil. Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan bagaimana kehamilan telah menjadi hambatan besar bagi proses kreatifnya. Adichie mengakui bahwa mengandung anak membawa perubahan besar dalam cara tubuhnya berfungsi dan dalam bagaimana dia memandang dunia. Tantangan fisik dan mental yang dihadapi selama kehamilan menguji daya juangnya sebagai penulis.
Hambatan Fisik dan Psikologis
Kehamilan dapat mempengaruhi banyak aspek kehidupan seorang perempuan, dan untuk Adichie, itu juga mempengaruhi cara ia menulis. Saat hamil, dia merasa kesulitan untuk menemukan konsentrasi yang dibutuhkan untuk menulis, terutama ketika tubuhnya merespons perubahan hormon dan ketidaknyamanan fisik. Rasa lelah yang luar biasa, mual, dan perasaan fisik lainnya memengaruhi kemampuannya untuk tetap fokus pada pekerjaan menulis. Baginya, menulis adalah proses yang sangat membutuhkan konsentrasi dan aliran ide yang stabil, namun kehamilan, menurutnya, membawa gangguan yang “mengerikan” bagi proses itu.
Adichie juga berbicara tentang bagaimana kehamilan mempengaruhi suasana hatinya, yang kadang kala bisa sangat fluktuatif. Ia menggambarkan pengalaman ini sebagai masa-masa yang penuh dengan kegelisahan dan kecemasan. Keseimbangan antara perasaan harus menjadi ibu dan perasaan ingin tetap menjadi penulis yang produktif adalah pertarungan batin yang tidak mudah dihadapi. Bagi Adichie, ini bukan hanya soal mengatur waktu, tetapi juga tentang menemukan ruang untuk diri sendiri di tengah kesibukan dan tuntutan kehamilan. Kehamilan, meskipun memberikan kebahagiaan besar, juga menimbulkan kekhawatiran akan identitas diri dan bagaimana itu akan berubah setelah kelahiran anak.
Tekanan Sosial dan Harapan terhadap Perempuan
Sebagai seorang penulis yang sudah dikenal luas, Adichie tidak hanya menghadapi tekanan dari dalam dirinya sendiri, tetapi juga dari harapan orang lain. Ada anggapan bahwa seorang penulis harus terus berkarya tanpa henti, terutama ketika mereka sudah memiliki platform yang kuat. Namun, bagi Adichie, kehamilan membuatnya harus melawan stereotip dan ekspektasi yang ada. Dalam banyak masyarakat, perempuan sering dipandang sebagai sosok yang harus memenuhi berbagai peran—sebagai ibu, istri, dan profesional—sehingga memberi sedikit ruang bagi perempuan untuk merawat diri mereka sendiri dan mengejar aspirasi pribadi.
Adichie dengan tegas menentang pandangan tersebut. Ia berbicara tentang bagaimana ia merasa perlu untuk memberi diri sendiri izin untuk tidak selalu produktif, terutama selama masa kehamilan. Sebagai seorang feminis, ia menyadari bahwa tantangan yang dihadapinya ini adalah bagian dari realitas yang harus diterima oleh banyak perempuan di dunia, tetapi ia juga menyarankan untuk tidak merasa terbebani dengan tuntutan untuk selalu produktif. Dalam pandangannya, ini adalah bagian dari merayakan perempuan dengan segala kompleksitas dan keberagaman peran yang dimilikinya.
Mengatasi Tantangan dan Menciptakan Ruang untuk Berkarya
Meskipun Adichie menghadapi berbagai hambatan selama kehamilan, ia juga menunjukkan bagaimana ia bisa menemukan cara untuk mengatasi tantangan ini. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan mengatur waktu menulisnya lebih fleksibel. Alih-alih berusaha untuk menulis dalam rutinitas yang ketat, ia belajar untuk mengikuti ritme tubuhnya dan memberikan waktu lebih untuk beristirahat. Selain itu, Adichie juga berbicara tentang pentingnya memiliki dukungan dari orang terdekat, baik itu pasangan maupun keluarga, dalam menjalani masa kehamilan dan tetap menjaga semangat menulis.
Adichie juga menekankan pentingnya memiliki rasa kasih sayang terhadap diri sendiri. Dalam menghadapi tantangan kehamilan, ia belajar untuk memberi ruang bagi diri sendiri untuk beradaptasi dan berkembang. Menulis bukan lagi soal memenuhi target atau tuntutan, tetapi lebih kepada merayakan setiap momen yang ada, baik itu momen kebahagiaan, kesulitan, atau ketidakpastian.
Kehamilan, bagi Chimamanda Ngozi Adichie, meskipun menghadirkan tantangan luar biasa bagi proses menulisnya, juga membuka perspektif baru tentang kehidupan, identitas perempuan, dan bagaimana perempuan dapat menemukan cara untuk menjalani berbagai peran tanpa harus kehilangan diri mereka sendiri. Ia mengajarkan kita bahwa meskipun kehidupan kadang penuh dengan hambatan, terutama bagi perempuan, itu bukan berarti kita harus menyerah. Sebaliknya, tantangan tersebut bisa menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang lebih dalam dan lebih bermakna.